Apa yang pertama kali ada di benak Anda ketika mendengar kata 'PAJAK'?

Senin, 10 Januari 2011

Dukun Sihir Harus Bayar Pajak

Banyak orang tidak suka kepada petugas pajak, tetapi sekadar tidak suka. Para dukun sihir Romania, yang marah karena untuk pertama kalinya harus membayar pajak, merencanakan memakai kotoran kucing dan bangkai binatang untuk melakukan guna-guna kepada presiden dan pemerintah.

Sebenarnya tidak hanya dukun sihir yang menjadi pembayar pajak terbaru Romania. Peramal atau ahli nujum juga termasuk, tetapi mereka mungkin telah tahu sebelumnya.

Takhayul adalah urusan yang serius di Romania—negeri dari penguasa abad pertengahan yang menjadi inspirasi kisah ”drakula”—dan telah menjadi bagian dari kebudayaannya selama berabad-abad. Presiden Traian Basescu dan para pembantunya diketahui mengenakan pakaian warna ungu pada hari-hari tertentu, konon untuk menangkal hal buruk.

Dukun2 sihir Romania dari timur dan barat akan menuju ke dataran selatan dan Sungai Danube, untuk mengancam pemerintah dengan guna2 dan arwah karena undang2 pajak itu, mulai berlaku 1 Januari.

Belasan dukun sihir akan melempar tanaman mandrake yang beracun ke Sungai Danube untuk mengguna-gunai para pejabat pemerintah ”agar nasib buruk menimpa mereka”, kata seorang dukun sihir bernama Alisia. Dia menyebut dirinya dengan satu nama—hal yang biasa di kalangan dukun sihir Romania.

”Undang2 itu tolol. Apa yang harus dipajaki ketika kami nyaris tak berpenghasilan apa pun?” katanya. ”Para pembuat undang2 tidak becermin diri, pada banyaknya penghasilan mereka, muslihat mereka; mereka mencuri dan mereka datang pada kami meminta kami mengguna2i musuh2 mereka.”

Undang2 yang baru itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengumpulkan lebih banyak pendapatan di sebuah negara yang sedang dilanda resesi.

Di masa lalu, profesi yang kurang lumrah seperti dukun sihir, ahli nujum, dan peramal tidak terdaftar dalam peraturan ketenagakerjaan Romania. Mereka yang melakukan pekerjaan itu menggunakan ketiadaan registrasi untuk menghindari membayar pajak pendapatan.

Berdasarkan undang2 baru itu, seperti pekerja bebas lain, mereka akan membayar 16% PPh dan memberikan kontribusi pada program kesehatan dan pensiun.

Sebagian orang mengatakan, undang2 baru itu akan sulit diberlakukan karena pembayaran pada dukun sihir dan ahli nujum biasanya tunai dan relatif kecil sebesar 20 sampai 30 leu (7-10 dollar AS, kurang dari Rp 100.000) setiap konsultasi.

Mircea Geoana, yang kalah dalam pemilu presiden dari Basescu tahun 2009, tampil buruk pada sebuah debat penting, dan kubunya mengatakan itu karena serangan energi negatif dari kubu pesaingnya.

Ratu dukun sihir Bratara Buzea (63), yang dipenjara tahun 1977 karena ilmu sihir di bawah rezim Nicolae Ceausescu, berang terhadap undang2 baru itu.

Di vilanya di Mogosoaia, sebelah utara Bucharest, dia merencanakan membuat guna2 dengan menggunakan ramuan kotoran kucing dan bangkai anjing bersama sejumlah dukun sihir.

”Guna2 saya selalu manjur,” katanya.
Tidak semua dukun sihir mengancam melakukan guna2. ”Undang2 ini sangat baik,” kata Mihaela Minca. ”Itu berarti bahwa bakat magis kita diakui dan saya bisa membuka praktik sendiri.”

Kapan Dirjen Pajak RI terapkan di Indonesia, beranikah kenakan pajak pada Ki Joko Bodo kaya...hehehe

Selasa, 09 November 2010

Nyolong...

"Kita semua nyolong....." Kalimat tsb terucap bos saat meeting dg emosi.

Ketika aq protes saat anggota teamku diambil untuk promosi lebih tinggi, dengan 'mengorbankan' teamku yg sudah mulai solid, dg bilang "Bos, mau dibawa kemana divisiku?"

Aq 10 tahun jadi keeper, sementara 2 tahun lalu salah satu anggota teamku dapat promosi, kini satu lagi promosi lagi....

"Divisimu tidak dibawa kemana-mana...." Aq protes "Lalu usulan promosiku dulu dimana..." Dia timpali lagi "Itu aq ndak tahu, atasan yg buat..." Aq ingatkan bahwa divisi ini mengapa tidak dianggap penting, apa para bos tidak menyadari itu...

Dengan emosi berucap "Kita semua nyolong...Klo masuk penjara, kita juga masuk. Paling banter dipecat. Ini bukan bukan dosa, hanya langgar aturan negara....dllll"

Dalam hatiku "Aq pernah nyolong apa...Klo aq nyolong, sdh dapet apa...Si Bos mungkin sudah dapat colongan besar ya..."

Tuduhan yg menyesakkan dada untuk kultur orang yg seperti aq....

Suatu saat aq tidak tetap jadi keeper dari divisi kebohongan ini terus....Akan aku buktikan: Aq belajar yg bener, tahu juga yg tidak bener. Klo diajak berpraktek yg tidak bener, aq bisa jauh lebih tahu caranya drpd sekedar ecek-ecek ini...

Namun aq kurang sreg dengan tidak bener ini...Nuraniku belum bisa...Aq pasti bisa menjaga nurani untuk tidak terbeli...

Bersama TUHAN aq cakap mengadapinya...

Kamis, 04 November 2010

SOS Ubaya

SOS itu biasa dipakai kapal yg minta tolong kala kena masalah, seperti terhempas ombak, mesin mati, atau lainnya. Sbg warga Ubaya, walau bukan nahkoda, nuraniku terpanggil untuk memberi isyarat SOS, karena kondisi terakhir seperti kapal yg kena masalah. Kondisi ini meletus menjelang suksesi pimpinan yg mulai dihelat Desember depan. Mei harus sudah ada pimpinan baru.

17 tahun berada disini sepertinya sudah paham betul budaya organisasi disini. Berubah banget. 10 tahun terakhir banyak diisi oleh pimpinan tanpa hati & tanpa etika organisasi. Dg seenaknya mengangkat org baru tanpa tahu sejarah, dan ketika ada masalah pergi tanpa beban, serta membiarkan prajurit perang sendiri. Apalagi pergi dg meninggalkan catatan BURUK. Top manajemen yg selalu menutupi juga disesalkan banyak pihak.

Secara berjamaah, lembaga berslogan non-laba, secara bagus berpraktek laba. Masih layakkah disebut organisasi non-laba...?

Sbg lembaga pendidikan swasta berbentuk yayasan, yg dalam beberapa kesempatan (dies natalis) top manajemen bilang akan memberi pertanggungjawaban kepada masyarakat selaku konsumen pendidikan, masyarakat harusnya juga tahu ttg yg buruk2 ini.

Mungkin perlu ada suara dari ikatan orang tua mahasiswa yg membuat surat terbuka mempertanyakan hal ini.

Karena bayi ikatan karyawan yg ada rasanya sudah 'lemes' tak berdaya, tidak solit, saling curiga, dan rawan retak.

Apalagi ikatan alumninya yg tidak ada suaranya, karena sudah terbebani hutang budi.

Yayasan sebagai pendiri juga setali tiga uang, malah melegalkan pembiaran berlangsung.

Mau menunggu peran pemerintah???? Sepertinya kayak mengharap air di musin kemarau...

SOS sepertinya isyarat tepat dari suara nurani yg masih terjaga, nurani yg belum terkontaminasi bagi-bagi rejeki, nurani yg belum terbeli...Apakah saat nuraniku terbeli, aq masih bisa bersuara jernih.?

Nurani disini seperti barang langka....Idealisme hanya ada di bibir saja....

Tuhan sumber kuatku...Tuhan tak bisa dibeli...
Pujilah Tuhan hai jiwaku...Bahwasana untuk selamanya kasih setiaNya...
Dalam naunganNya lebih nikmat meski dianggap aneh dilingkungan nir-nurani..

Amin...